Selasa, 08 Maret 2022

Filosofi Nietzsche dan Kant

Biografi Singkat Nietzsche


        Nietzsche dilahirkan pada tanggal 15 Oktober 1844 di Roecken, Jerman. Orangtuanya adalah Carl Ludwig Nietzsche (1813-1849), seorang pastor Lutheran yang keras dan istrinya Franziska, nama gadisnya Oehler (1826-1897). Ia diberi nama untuk menghormati kaisar Prusia, Friedrich Wilhelm IV yang memiliki tanggal lahir yang sama. Adik perempuannya, Elisabeth, dilahirkan pada tahun 1846. Setelah kematian ayahnya pada tahun 1849 dan adik laki-lakinya, Ludwig Joseph (1848-1850), keluarga ini pindah ke Naumburg dekat Saale.

        Nietzsche meninggal pada penghujung abad ke-19, tanggal 25 Agustus 1900, setelah dirawat oleh adiknya. Ia dimakamkan di makam keluarga di Roecken, Jerman. George Wilhelm Friedrich Nietzsche memiliki pribadi yang bercabang dua. Pada satu pihak sebagai seorang sastrawan dan pada pihak lain sebagai seorang filsuf. Hal inilah yang membedakan Nietzsche dengan para sastrawan lainnya. Hasil karya Nietzsche, selain bernilai sastra yang tinggi, juga merupakan hasil perenungan pemikiran filsafat yang mendalam. Nietzsche sangat ahli dalam memilih kata yang tepat, ungkapan yang dipakainya tepat mengenai sasaran. Apalagi tulisan-tulisannya yang berbentuk aforisme (Endang-Daruni, tt: 1).

        Sebagai remaja, Nietzsche memiliki kemampuan istimewa. Ia seorang pembelajar bahasa yang berbakat dan juga seorang musisi yang terampil memainkan berbagai alat musik. Sebagai pelajar, Nietzsche kehilangan keyakinannya terhadap agama Kristen sejak usia yang masih sangat muda. Sebagai akibatnya, Nietzsche meninggalkan pelajaran teologi untuk kemudian lebih menekuni kebudayaan klasik. Pada usia 25 tahun, yaitu tahun 1869, Nietzsche diangkat sebagai profesor filologi klasik di Universitas Basel. Perjalanan hidup Nietzsche sebagai filsuf mengalami perkembangan yang sangat menentukan ketika ia membaca buku Arthur Schopenhauer, The World as Will and Idea (1818). Buku ini selain menginspirasi pemikiran filosofisnya, sekaligus juga meneguhkan ateismenya. Selain Schopenhauer, pemikir yang mempengaruhi filsafat Nietzsche adalah Richard Wagner. Hal ini terlihat dari persembahan Nietzsche terhadap Wagner atas bukunya The Bird of Tragedy (1872). Adapun karya-karya Nietszche antara lain, yaitu :

1. Die Geburt Der Tragödie (Kelahiran Tragedi) - 1872.

2. Unzeitgemässe Betrachtungen (Pandangan NonKontemporer) - 1873-1876.

3. Menschliches, Allzumenschliches (Manusiawi, Terlalu Manusiawi) - 1878-1880.

4. Morgenröthe (Merahnya Pagi) - 1881.

5. Die Fröhliche Wissenschaft (Ilmu yang Gembira) -1882.

6. Also Sprach Zarathustra (Maka Berbicaralah Zarathustra) - 1883-1885.

7. Jenseits Von Gut Und Böse (Melampaui Kebajikan dan Kejahatan) – 1886.

8. Zur Genealogie Der Moral (Mengenai Silsilah Moral) – 1887.

9. Der Fall Wagner (Perihal Wagner) – 1888.

10. Götzen-Dämmerung (Menutupi Berhala) – 1889.

11. Der Antichrist (Sang Antikristus) – 1889.

12. Ecce Homo (Lihat Sang Manusia) – 1889.

 

Filsafat Nietzsche

        Filsafat Nietzsche adalah filsafat tentang cara memandang 'kebenaran' atau dikenal dengan istilah filsafat perspektivisme. Nietzsche juga dikenal sebagai "sang pembunuh Tuhan" (dalam Also sprach Zarathustra). Ia memprovokasi dan mengkritik kebudayaan Barat (dengan peninjauan ulang semua nilai dan tradisi atau Umwertung aller Werten) di zaman yang sebagian besar dipengaruhi oleh pemikiran Plato dan tradisi Kekristenan (keduanya mengacu kepada paradigma kehidupan setelah kematian, sehingga menurutnya anti dan pesimis terhadap kehidupan). Walaupun demikian, dengan kematian Tuhan berikut paradigma kehidupan setelah kematian tersebut, filosofi Nietzsche tidak menjadi sebuah filosofi nihilisme. Justru sebaliknya, sebuah filosofi untuk menaklukkan nihilisme (Überwindung der Nihilismus) dengan mencintai secara utuh kehidupan (Lebensbejahung), dan memposisikan manusia sebagai manusia unggul (Übermensch) dengan kehendak untuk berkuasa (der Wille zur Macht).

        Nietzsche mulai mempelajari filsafat setelah ia membaca karya Schopenhauer, karena itu dapat dikatakan bahwa Schopenhauer berpengaruh besar terhadap pemikiran filsafat Nietzsche. Baik Schopenhauer maupun Nietzsche memiliki pandangan yang sama, keduanya mendasarkan filsafat pada “kehendak”. Meskipun demikian terdapat perbedaan yang tegas tentang penerapan konsep ini dalam kehidupan manusia. Jika Schpopenhauer mendasarkan kehidupan manusia pada kehendak untuk hidup (Wille zur Leben), maka Nietzsche mendasarkan kehidupan manusia pada kehendak untuk berkuasa (Wille zur Macht) (Endang Daruni, tt.: 7). Bagi Nietzsche, kemauan untuk berkuasa merupakan motif dasar tindakan manusia dan juga merupakan titik pusat dalam memahami etika. Nietzsche menegaskan bahwa pengetahuan merupakan alat untuk mencapai kekuasaan. Kemauan untuk mendapatkan pengetahuan, atau kemauan untuk tahu, tergantung pada besar atau kecilnya kemauan untuk berkuasa. Tujuan untuk mendapatkan pengetahuan bukanlah semata-mata untuk tahu dalam arti kebenaran mutlak, tetapi untuk tujuan berkuasa. Dunia itu merupakan kehendak untuk berkuasa dan tidak ada yang lain kecuali itu. Oleh karena itu, manusia pun merupakan satu bentuk kehendak untuk berkuasa pula. Penegasan Nietzsche tentang kehendak untuk berkuasa merupakan gejala dunia yang sesungguhnya. Dunia, alam semesta, merupakan satu proses kejadian tentang kehendak untuk berkuasa, dan kehendak untuk berkuasa itu seharusnya memang sudah demikian adanya. Kehendak untuk berkuasa pertama-tama mewujudkan diri sebagai daya perasaan, dan yang kedua menjadi daya perasaan. Secara umum, daya yang “menjadi” tidak dapat disamakan dengan kualitas daya, ia adalah menjadi dari kualitas itu sendiri, kualitas kehendak untuk berkuasa (Deleuze, 2002:90).

 

Sumber :

Daruni, Endang, TT, Pandangan Hidup W. F. Nietzsche, Yayasan Pembina Fakultas Filsafat UGM, Yogyakarta.

Deleuze, G., 2002, Filsafat Nietzsche, diterjemahkan dari“Nietzsche and Philosophy” oleh Basuki Heri Winarno, Ikon Teralitera, Yogyakarta.

Hamersma, H., 1983, Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern, PT Gramedia, Jakarta.

Munir, Misnal. "Pengaruh Filsafat Nietzsche Terhadap Perkembangan Filsafat Barat Kontemporer." Jurnal Filsafat 21.2 (2011): 134-146.




Latar Belakang Pemikiran Kant

        Dalam sejarah filsafat pemikiran seorang filsuf kerap kali muncul akibat reaksi atas suasana pemikiran filosofi pada zaman nya. Begitu pula dengan Kant. Kant hidup zaman pencerahan Jerman. Zaman dimana manusia mencari cahaya baru di dalam rasionya sendiri. Menurut Kant, dengan pencerahan dimaksudkan bahwa orang tersebut keluar dari keadaan tidak akil balig. Keluar dari kesalahan-kesalahan dan keenganan manusia untuk menggunakan dan memanfaatkan rasionya. Sebagai filsuf yang hidup di zaman puncak pencerahan Jerman, Kant tentu terpengaruh dengan suasana Zamannya. Pengaruh itersebut nampak dalam epistemologi, teologi, dan etikanya. Kant selalu berusah mencari prinsip-prinsip yang ada dalam tingkah laku dan kecenderungan manusia. Leibniz dan Hume mempunyai pengaruh besar terhadap epistemologi Kant25. Keduanya merupakan wakil dari dua aliran pemikiran filosofis yang kuat melanda di Eropa pada masa pencerahan. Leibniz tampil sebagai tokoh penting aliran rasionalisme, sedangkan Hume muncul sebagai wakil dari aliran empirisme. Rasionalisme adalah aliran filsafat yang mengajarkan bahwa sumber pengetahuan yang sejati adalah akal budi (rasio). Pengalaman hanya dipakai untuk meneguhkan pengetahuan yang telah didapatkan akal budi. Akal budi sendiri tidak memerlukan pengalaman. Akal budi dapat menurutkan kebenaran-kebenaran dari dirinya sendiri, yakni berdasarkan azas-azas yang pertama dan pasti. Metode kerja nya bersifat deduktif.

 

Biografi Immanuel Kant


        Immanuel Kant adalah seorang filsuf besar yang pernah tampil dalam pentas pemikiran filosofis zaman Aufklarung Jerman menjelang akhir abad ke18. Immanuel Kant Lahir pada tanggal 22 April 1724 di Konigsberg, sebuah kota kecil di Prussia Timur (lahir di Königsberg, Kerajaan Prusia, 22 April 1724 – meninggal di Königsberg, Kerajaan Prusia, 12 Februari 1804 pada umur 79 tahun). Kota tersebut sekarang bernama Kaliningrat di Rusia1 . Anak keempat dari seorang pembuat pelana kuda dan baju zirah ini, tinggal di kota ini sepanjang hidupnya hingga meninggal pada usia 80-an. Keluarganya penganut kristen yang saleh. Keyakinan agamanya sekaligus merupakan latar belakang yang cukup penting bagi pemikiran filosofisnya, terutama masalah etika. Immanuel kant (1724-1804) umumnya dianggap sebagai filsuf terbesar diantara filsuf modern. Kant hidup pada saat pencerahan sedang mekarmekarnya di Jerman. Pada abad ke-18 Eropa Barat mengalami zaman baru yang disebut dengan zaman pencerahan. Nama ini diberikan pada zaman ini karena manusia mulai mencari cahaya baru di dalam rasio nya sendiri.2 Sebagai seorang pribadi Kant tdak memiliki pengalaman yang penuh gejolak dan tantangan seperti yang di alami Socrates, Bruno, Spinoza, atau Rousseau. Berbeda dengan Descartes atau Leibniz, Kant tidak pernah melancong keluar negeri. Kant juga tidak aktif dalam politik, seperti Machiavelli atau Hegel. Kant diasuh dengan nilai-nilai kerajinan, kejujuran, dan kesalehan yang ketat. Pada usia tuanya, Kant teringat pada ibunya dan sangat berterima kasih kepada ibunya yang mendidiknya untuk jujur dan menghindari segala bentuk dusta. Susana pengasuahn pietistis ini ini besar pengaruhnya dalam pemikiran kant yang menjunjung tinggi kewajiban.3 Kant terpengaruh oleh aliran pietitisme dari ibunya, tetapi Kant hidup pada zaman Sceptisisme serta membaca karangan-karangan Voltaire dan Hume. Akibanya Kant mempunyai problema : what can we know? (apa yang dapat kita ketahui?), what is nature adn what are the limits of human knowledge? (apakah alam ini dan apakah ada batasan pengetahua manusia itu?). Sebagian besar hidupnya telah Kant pergunakan untuk mempelajari logical proces of thought (proses Penalaran logis), the external world (dunia eksternal) dan the reallity of things (realita segala yang wujud).

        Immanuel Kant dilahirkan pada tahun 1724 di Königsberg dari pasangan Johann Georg Kant, seorang ahli pembuat baju zirah (baju besi), dan Anna Regina Kant. Ayahnya kemudian dikenal sebagai ahli perdagangan, namun di tahun 1730-1740, perdagangan di Königsberg mengalami kemerosotan. Hal ini memengaruhi bisnis ayahnya dan membuat keluarga mereka hidup dalam kesulitan. Ibunya meninggal saat Kant berumur 13 tahun, sedangkan ayah Kant meninggal saat dia berumur hampir 22 tahun.

        Pada tahun 1742 , Kant memasuki universitas Koinsberg sebagai mahasiswa teologi. Tetapi Kant menjadi sangat bosan dengan teologi, dan menunjukan minatnya pada matematika dan fisika. Awal ketertarikannya pada matematika dan fisika ketika dia membaca buku newton hingga terbukalah matanya pada ilmu pengetahuan dan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan yang diungkapkan dalam buku newton, mulai dari astronomi hingga zoology (ilmu Alam). Kant juga membaca karya Leizbin, dari sini Kant memandang peran kemanusiaan yang tidak semata-mata di dalam alam belaka, melainkan jauh dari itu, kemanusiaan berperan melampaui apa yang menjadi tujuan utama dari alam semesta.8 Kant juga membaca karya-karya David Hume, seorang filsuf dari Skotlandia. Kant sangat terkesan pada kekukuhan David Hume yang mempercayai bahwa pengalaman adalah basis bagi semua pengetahuan. Karena alasan keuangan, Kant kuliah sambil bekerja.

Karya-karya Immanuel Kant

        Dalam hal karya-karyanya, Immanuel Kant sangat berjasa dalam perkembangan bidang ilmu pengetahuan. Karya-karyanya penuh dengan berbagai dilema dan paradoks yang sangat abstrak, yang mula-mula terkesan jauh dari masalah-masalah manusia sehari-hari. Karya-karya itu ditulis dalam gaya yang sangat akademis, yang akan sangat mengejutkan siapapun yang membaca karya itu.

Karya-karya yang monumental dan sangat berharga telah tercipta dari buah pemikirannya. Karya-karyanya memberi suatu perubahan dan bentuk baru dalam cara berfikir yang dituangkan dalam bentuk filsafat kritis (Kritisisme). Beberapa karya Kant yang telah menegakkan popularitasnya antara lain:

1. Kritik der Reiner Vernunf / Critique of Pure Reason, 1781 M (Kritik Atas Rasio Murni)

2. Prolegomena zu Einer Jeden Kunftigen Metaphysik / Prolegomena to Any Future Metaphisics,  1783   (Pengantar Metafisika Masa Depan)

3. Idea for Universal History, 1784 M

4. Grundlegung zur Metaphysik der Sitten/Groundwork of The Metaphysic of Morals, 1785  (Pendasaran Metafisika Kesusilaan)

5. Metaphysical Faundations of Normal Science, 1786 M. (Pendasaran Metafisika Pengetahuan Alam)

6. Kritik der Praktischen Vernunft/Critique of Practical Reason, 1787 M (Kritik Atas Rasio Praktis)

 

Sumber :

https://sc.syekhnurjati.ac.id/esscamp/risetmhs/BAB258511441.pdf

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar