Biografi Singkat
Nietzsche
Nietzsche dilahirkan pada
tanggal 15 Oktober 1844 di Roecken, Jerman. Orangtuanya adalah Carl Ludwig
Nietzsche (1813-1849), seorang pastor Lutheran yang keras dan istrinya
Franziska, nama gadisnya Oehler (1826-1897). Ia diberi nama untuk menghormati
kaisar Prusia, Friedrich Wilhelm IV yang memiliki tanggal lahir yang sama. Adik
perempuannya, Elisabeth, dilahirkan pada tahun 1846. Setelah kematian ayahnya
pada tahun 1849 dan adik laki-lakinya, Ludwig Joseph (1848-1850), keluarga ini
pindah ke Naumburg dekat Saale.
Nietzsche meninggal pada
penghujung abad ke-19, tanggal 25 Agustus 1900, setelah dirawat oleh adiknya.
Ia dimakamkan di makam keluarga di Roecken, Jerman. George Wilhelm Friedrich
Nietzsche memiliki pribadi yang bercabang dua. Pada satu pihak sebagai seorang
sastrawan dan pada pihak lain sebagai seorang filsuf. Hal inilah yang
membedakan Nietzsche dengan para sastrawan lainnya. Hasil karya Nietzsche,
selain bernilai sastra yang tinggi, juga merupakan hasil perenungan pemikiran
filsafat yang mendalam. Nietzsche sangat ahli dalam memilih kata yang tepat,
ungkapan yang dipakainya tepat mengenai sasaran. Apalagi tulisan-tulisannya
yang berbentuk aforisme (Endang-Daruni, tt: 1).
Sebagai remaja, Nietzsche
memiliki kemampuan istimewa. Ia seorang pembelajar bahasa yang berbakat dan
juga seorang musisi yang terampil memainkan berbagai alat musik. Sebagai
pelajar, Nietzsche kehilangan keyakinannya terhadap agama Kristen sejak usia
yang masih sangat muda. Sebagai akibatnya, Nietzsche meninggalkan pelajaran
teologi untuk kemudian lebih menekuni kebudayaan klasik. Pada usia 25 tahun,
yaitu tahun 1869, Nietzsche diangkat sebagai profesor filologi klasik di
Universitas Basel. Perjalanan hidup Nietzsche sebagai filsuf mengalami
perkembangan yang sangat menentukan ketika ia membaca buku Arthur Schopenhauer,
The World as Will and Idea (1818). Buku ini selain menginspirasi pemikiran
filosofisnya, sekaligus juga meneguhkan ateismenya. Selain Schopenhauer,
pemikir yang mempengaruhi filsafat Nietzsche adalah Richard Wagner. Hal ini
terlihat dari persembahan Nietzsche terhadap Wagner atas bukunya The Bird of
Tragedy (1872). Adapun karya-karya Nietszche antara lain, yaitu :
1. Die Geburt Der
Tragödie (Kelahiran Tragedi) - 1872.
2. Unzeitgemässe
Betrachtungen (Pandangan NonKontemporer) - 1873-1876.
3. Menschliches,
Allzumenschliches (Manusiawi, Terlalu Manusiawi) - 1878-1880.
4. Morgenröthe (Merahnya
Pagi) - 1881.
5. Die Fröhliche
Wissenschaft (Ilmu yang Gembira) -1882.
6. Also Sprach
Zarathustra (Maka Berbicaralah Zarathustra) - 1883-1885.
7. Jenseits Von Gut Und
Böse (Melampaui Kebajikan dan Kejahatan) – 1886.
8. Zur Genealogie Der
Moral (Mengenai Silsilah Moral) – 1887.
9. Der Fall Wagner
(Perihal Wagner) – 1888.
10. Götzen-Dämmerung
(Menutupi Berhala) – 1889.
11. Der Antichrist (Sang
Antikristus) – 1889.
12. Ecce Homo (Lihat Sang
Manusia) – 1889.
Filsafat Nietzsche
Filsafat Nietzsche adalah
filsafat tentang cara memandang 'kebenaran' atau dikenal dengan istilah
filsafat perspektivisme. Nietzsche juga dikenal sebagai "sang pembunuh
Tuhan" (dalam Also sprach Zarathustra). Ia memprovokasi dan mengkritik
kebudayaan Barat (dengan peninjauan ulang semua nilai dan tradisi atau
Umwertung aller Werten) di zaman yang sebagian besar dipengaruhi oleh pemikiran
Plato dan tradisi Kekristenan (keduanya mengacu kepada paradigma kehidupan
setelah kematian, sehingga menurutnya anti dan pesimis terhadap kehidupan).
Walaupun demikian, dengan kematian Tuhan berikut paradigma kehidupan setelah
kematian tersebut, filosofi Nietzsche tidak menjadi sebuah filosofi nihilisme.
Justru sebaliknya, sebuah filosofi untuk menaklukkan nihilisme (Überwindung der
Nihilismus) dengan mencintai secara utuh kehidupan (Lebensbejahung), dan
memposisikan manusia sebagai manusia unggul (Übermensch) dengan kehendak untuk
berkuasa (der Wille zur Macht).
Nietzsche mulai
mempelajari filsafat setelah ia membaca karya Schopenhauer, karena itu dapat
dikatakan bahwa Schopenhauer berpengaruh besar terhadap pemikiran filsafat
Nietzsche. Baik Schopenhauer maupun Nietzsche memiliki pandangan yang sama,
keduanya mendasarkan filsafat pada “kehendak”. Meskipun demikian terdapat
perbedaan yang tegas tentang penerapan konsep ini dalam kehidupan manusia. Jika
Schpopenhauer mendasarkan kehidupan manusia pada kehendak untuk hidup (Wille
zur Leben), maka Nietzsche mendasarkan kehidupan manusia pada kehendak untuk
berkuasa (Wille zur Macht) (Endang Daruni, tt.: 7). Bagi Nietzsche, kemauan
untuk berkuasa merupakan motif dasar tindakan manusia dan juga merupakan titik
pusat dalam memahami etika. Nietzsche menegaskan bahwa pengetahuan merupakan
alat untuk mencapai kekuasaan. Kemauan untuk mendapatkan pengetahuan, atau
kemauan untuk tahu, tergantung pada besar atau kecilnya kemauan untuk berkuasa.
Tujuan untuk mendapatkan pengetahuan bukanlah semata-mata untuk tahu dalam arti
kebenaran mutlak, tetapi untuk tujuan berkuasa. Dunia itu merupakan kehendak
untuk berkuasa dan tidak ada yang lain kecuali itu. Oleh karena itu, manusia
pun merupakan satu bentuk kehendak untuk berkuasa pula. Penegasan Nietzsche
tentang kehendak untuk berkuasa merupakan gejala dunia yang sesungguhnya. Dunia,
alam semesta, merupakan satu proses kejadian tentang kehendak untuk berkuasa,
dan kehendak untuk berkuasa itu seharusnya memang sudah demikian adanya.
Kehendak untuk berkuasa pertama-tama mewujudkan diri sebagai daya perasaan, dan
yang kedua menjadi daya perasaan. Secara umum, daya yang “menjadi” tidak dapat
disamakan dengan kualitas daya, ia adalah menjadi dari kualitas itu sendiri,
kualitas kehendak untuk berkuasa (Deleuze, 2002:90).
Sumber
:
Daruni,
Endang, TT, Pandangan Hidup W. F. Nietzsche, Yayasan Pembina Fakultas Filsafat
UGM, Yogyakarta.
Deleuze,
G., 2002, Filsafat Nietzsche, diterjemahkan dari“Nietzsche and Philosophy” oleh
Basuki Heri Winarno, Ikon Teralitera, Yogyakarta.
Hamersma,
H., 1983, Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern, PT Gramedia, Jakarta.
Munir, Misnal. "Pengaruh Filsafat
Nietzsche Terhadap Perkembangan Filsafat Barat Kontemporer." Jurnal Filsafat 21.2 (2011): 134-146.
Latar Belakang Pemikiran
Kant
Dalam sejarah filsafat
pemikiran seorang filsuf kerap kali muncul akibat reaksi atas suasana pemikiran
filosofi pada zaman nya. Begitu pula dengan Kant. Kant hidup zaman pencerahan
Jerman. Zaman dimana manusia mencari cahaya baru di dalam rasionya sendiri.
Menurut Kant, dengan pencerahan dimaksudkan bahwa orang tersebut keluar dari
keadaan tidak akil balig. Keluar dari kesalahan-kesalahan dan keenganan manusia
untuk menggunakan dan memanfaatkan rasionya. Sebagai filsuf yang hidup di zaman
puncak pencerahan Jerman, Kant tentu terpengaruh dengan suasana Zamannya.
Pengaruh itersebut nampak dalam epistemologi, teologi, dan etikanya. Kant
selalu berusah mencari prinsip-prinsip yang ada dalam tingkah laku dan
kecenderungan manusia. Leibniz dan Hume mempunyai pengaruh besar terhadap
epistemologi Kant25. Keduanya merupakan wakil dari dua aliran pemikiran
filosofis yang kuat melanda di Eropa pada masa pencerahan. Leibniz tampil
sebagai tokoh penting aliran rasionalisme, sedangkan Hume muncul sebagai wakil
dari aliran empirisme. Rasionalisme adalah aliran filsafat yang mengajarkan
bahwa sumber pengetahuan yang sejati adalah akal budi (rasio). Pengalaman hanya
dipakai untuk meneguhkan pengetahuan yang telah didapatkan akal budi. Akal budi
sendiri tidak memerlukan pengalaman. Akal budi dapat menurutkan
kebenaran-kebenaran dari dirinya sendiri, yakni berdasarkan azas-azas yang
pertama dan pasti. Metode kerja nya bersifat deduktif.
Biografi
Immanuel Kant

Immanuel Kant adalah
seorang filsuf besar yang pernah tampil dalam pentas pemikiran filosofis zaman
Aufklarung Jerman menjelang akhir abad ke18. Immanuel Kant Lahir pada tanggal
22 April 1724 di Konigsberg, sebuah kota kecil di Prussia Timur (lahir di
Königsberg, Kerajaan Prusia, 22 April 1724 – meninggal di Königsberg, Kerajaan
Prusia, 12 Februari 1804 pada umur 79 tahun). Kota tersebut sekarang bernama
Kaliningrat di Rusia1 . Anak keempat dari seorang pembuat pelana kuda dan baju
zirah ini, tinggal di kota ini sepanjang hidupnya hingga meninggal pada usia
80-an. Keluarganya penganut kristen yang saleh. Keyakinan agamanya sekaligus
merupakan latar belakang yang cukup penting bagi pemikiran filosofisnya,
terutama masalah etika. Immanuel kant (1724-1804) umumnya dianggap sebagai
filsuf terbesar diantara filsuf modern. Kant hidup pada saat pencerahan sedang
mekarmekarnya di Jerman. Pada abad ke-18 Eropa Barat mengalami zaman baru yang
disebut dengan zaman pencerahan. Nama ini diberikan pada zaman ini karena
manusia mulai mencari cahaya baru di dalam rasio nya sendiri.2 Sebagai seorang
pribadi Kant tdak memiliki pengalaman yang penuh gejolak dan tantangan seperti
yang di alami Socrates, Bruno, Spinoza, atau Rousseau. Berbeda dengan Descartes
atau Leibniz, Kant tidak pernah melancong keluar negeri. Kant juga tidak aktif
dalam politik, seperti Machiavelli atau Hegel. Kant diasuh dengan nilai-nilai
kerajinan, kejujuran, dan kesalehan yang ketat. Pada usia tuanya, Kant teringat
pada ibunya dan sangat berterima kasih kepada ibunya yang mendidiknya untuk
jujur dan menghindari segala bentuk dusta. Susana pengasuahn pietistis ini ini
besar pengaruhnya dalam pemikiran kant yang menjunjung tinggi kewajiban.3 Kant
terpengaruh oleh aliran pietitisme dari ibunya, tetapi Kant hidup pada zaman
Sceptisisme serta membaca karangan-karangan Voltaire dan Hume. Akibanya Kant
mempunyai problema : what can we know? (apa yang dapat kita ketahui?), what is
nature adn what are the limits of human knowledge? (apakah alam ini dan apakah
ada batasan pengetahua manusia itu?). Sebagian besar hidupnya telah Kant
pergunakan untuk mempelajari logical proces of thought (proses Penalaran
logis), the external world (dunia eksternal) dan the reallity of things
(realita segala yang wujud).
Immanuel Kant dilahirkan
pada tahun 1724 di Königsberg dari pasangan Johann Georg Kant, seorang ahli
pembuat baju zirah (baju besi), dan Anna Regina Kant. Ayahnya kemudian dikenal
sebagai ahli perdagangan, namun di tahun 1730-1740, perdagangan di Königsberg
mengalami kemerosotan. Hal ini memengaruhi bisnis ayahnya dan membuat keluarga
mereka hidup dalam kesulitan. Ibunya meninggal saat Kant berumur 13 tahun,
sedangkan ayah Kant meninggal saat dia berumur hampir 22 tahun.
Pada tahun 1742 , Kant
memasuki universitas Koinsberg sebagai mahasiswa teologi. Tetapi Kant menjadi
sangat bosan dengan teologi, dan menunjukan minatnya pada matematika dan
fisika. Awal ketertarikannya pada matematika dan fisika ketika dia membaca buku
newton hingga terbukalah matanya pada ilmu pengetahuan dan berbagai kemajuan ilmu
pengetahuan yang diungkapkan dalam buku newton, mulai dari astronomi hingga
zoology (ilmu Alam). Kant juga membaca karya Leizbin, dari sini Kant memandang
peran kemanusiaan yang tidak semata-mata di dalam alam belaka, melainkan jauh
dari itu, kemanusiaan berperan melampaui apa yang menjadi tujuan utama dari
alam semesta.8 Kant juga membaca karya-karya David Hume, seorang filsuf dari
Skotlandia. Kant sangat terkesan pada kekukuhan David Hume yang mempercayai
bahwa pengalaman adalah basis bagi semua pengetahuan. Karena alasan keuangan,
Kant kuliah sambil bekerja.
Karya-karya Immanuel Kant
Dalam hal karya-karyanya,
Immanuel Kant sangat berjasa dalam perkembangan bidang ilmu pengetahuan.
Karya-karyanya penuh dengan berbagai dilema dan paradoks yang sangat abstrak,
yang mula-mula terkesan jauh dari masalah-masalah manusia sehari-hari.
Karya-karya itu ditulis dalam gaya yang sangat akademis, yang akan sangat
mengejutkan siapapun yang membaca karya itu.
Karya-karya yang
monumental dan sangat berharga telah tercipta dari buah pemikirannya.
Karya-karyanya memberi suatu perubahan dan bentuk baru dalam cara berfikir yang
dituangkan dalam bentuk filsafat kritis (Kritisisme). Beberapa karya Kant yang
telah menegakkan popularitasnya antara lain:
1.
Kritik der Reiner Vernunf / Critique of Pure Reason, 1781 M (Kritik Atas Rasio
Murni)
2.
Prolegomena zu Einer Jeden Kunftigen Metaphysik / Prolegomena to Any Future
Metaphisics, 1783 (Pengantar Metafisika
Masa Depan)
3.
Idea for Universal History, 1784 M
4. Grundlegung zur Metaphysik der Sitten/Groundwork of The Metaphysic of Morals,
1785 (Pendasaran Metafisika Kesusilaan)
5.
Metaphysical Faundations of Normal Science, 1786 M. (Pendasaran Metafisika
Pengetahuan Alam)
6.
Kritik der Praktischen Vernunft/Critique of Practical Reason, 1787 M (Kritik
Atas Rasio Praktis)
Sumber
:
https://sc.syekhnurjati.ac.id/esscamp/risetmhs/BAB258511441.pdf